1) PUTERI TIDUR
Seorang Puteri…
Terjerat dalam rasa
Antara mekar dan gugur
Tak dapat dibedakan
Hanya suka hati merasa
Terjerat ia dalam bathin
Dalam mulut bibir terkunci
Kian lama tak menentu
Dalam hati rasa merana
Biarkan jiwa terbaring lemah
Selimut mata yang menutup
Menanti tiba seorang pangeran
Seperti dalam lelap tidurnya
2) TANYAKU
Pernah…
Ketika bintang tak berkedip lagi
Ketika bulan tak bersinar lagi
Ketika mentari tak terbit lagi
Seruan kalbu mengucap tannya
Mengapa…????
Air mata mengenang pilu
Membasuh kalbu tak menentu
Ingat kenangan dimasa lalu
Membuka duka dalam daku
Surga dunia di dalam mimpi
Hanya khayalan yang tak pasti
Harapan ingin menjadi
Walau itu tak pasti
Tanya!!!! Tanya…!!
Akankah semua kembali lagi?
Hanya takdir yang akan menjawab
3) PUDAR
Pudar sudah warna hati
Berjejal kelabu menghimpit biru
Tarian rumput pemecah lara
Pudar warnanya kuning tua
Ku lelah menghela nafas
Menimbang rasa percuma saja
Bagian cerita tetap hampa
Biarkan ungu tetap disini
Kini hidup sebatang kara
Bersama langit di malam hari
Tanpa setitik cahaya….
Jalan di depan terasa patah
Datangkan lara tak diundang
Tak mungkin terus seperti ini
Berlaripun kaki lemas
Telah jauh jalan terlewati
Duri terinjak sisakan bekas
Belaian angin tinggal kenangan
Tetesan embun di pagi hari
Segarkan rumput yang tlah mengering
Hanya harapan yang tak pasti
Kini hidup masih hampa
4) UNTUK SEBERKAS CAHAYA
Untuk seberkas cahaya…
Dari mentari di pagi hari
Yang perlahan..
Perlahan – lahan
Menyelinap pori-pori dinding
Dari sebuah kamar kosong
Tak bernafas!
Untuk seberkas cahaya
Yang menghidupkan insan
Dari mati kepengecutan
Untuk seberkas cahaya
Yang menajadi fatamorgana
Saat lara menyapa hati
Untuk seberkas cahaya
Yang hanya meninggalkan bekas
Setelah waktu habis
Untuk seberkas cahaya
Yang diharapkan terlihat lagi
Untuk seberkas cahaya..
Terima kasih!
