RSS

BELIEVE.. (Cinta Sejauh Bintang)

13 Jun

“Kutanamkan bunga-bunga keyakinan pada taman hatiku, walau berjatuhan di musim gugur tapi akan bermekaran lagi di musim semi. Hanya perlu berjalan lurus dan tetap percaya”

            Atmosfer siang itu terasa dingin. Anak – anak yang biasanya ribut di kelas mendadak diam, mungkin karena hujan sangat deras waktu itu. Dosen yang biasanya datang tepat waktu tidak masuk karena sakit. Dan mereka tidak bisa pulang hingga hujan reda.

            Ini tahun pertama Nuna di Universitas. Setelah mengikuti masa orientasi 2 minggu yang lalu, dia harus mulai kuliah untuk semester  pertama di bulan Ramadhan ini. Dia belum dekat dengan teman-temannya, tapi dia sudah mengenal mereka satu persatu.

            Nuna duduk di kursi paling belakang sambil menulis. Dia memang hobi sekali menulis kata-kata mutiara sebagai cambuk untuk memotivasi dirinya. Lusi datang menghampirinya lalu duduk disampingnya namun Nuna tidak menghiraukannya.

“Nuna, kau benar-benar ngefans sama dia ya? Kau bahkan memajang fotonya di dompetmu.” tanya Lusi tiba-tiba saat dia membuka dompet Nuna yang tergeletak diatas meja. “Kukira dia pacarmu.” lanjutnya.

            Nuna hanya tersenyum melihat Lusi tanpa bicara apa-apa.

“Apa kamu benar-benar gadis biasa?“ Lusi mengambil buku Nuna. “Kamu boleh saja menyukai seorang bintang tapi apa tidak ada seseorang dihatimu?” Lusi menatap tajam mata Nuna seolah sedang mengintip hati Nuna.

“Apaan sih?” Nuna mengibaskan tangannya lalu mengambil buku yang dipegang Lusi. “Tenang saja temanku sayang, aku baik-baik saja kok.” Nuna tersenyum manis tanpa ingin menjawab.

“Kau benar-benar aneh dan sulit dimengerti.” Lusi berdiri lalu meninggalkan Nuna.

            Nuna dan Lusi bersahabat sejak SMA, teman-temannya menyebut mereka Soulmate. Lusi tahu benar kalau Nuna menyukai seorang bintang bernama Brian Trevand sejak setahun yang lalu. Dan sejak saat itu dia tidak pernah mendengar kalau Nuna jatuh cinta lagi pada seseorang. Nuna sendiri tidak mengerti mengapa dirinya seperti itu. Hanya saja setelah patah hati, dia tidak merasa ada seseorang yang menggetarkan hatinya lagi. Dan ketika dia melihat sosok Brian di televisi, Nuna merasa tertarik padanya dan akhirnya Nuna mengalihkan perhatiannya pada Brian.

“Nuna!” Reka mengagetkan Nuna dengan memukul meja, kemudian tertawa saat melihat mimik Nuna yang kaget. “Minggu depan antar aku ke Bandung ya.” pinta Reka.

“Bandung? Buat apa?”

“Aku mau mengunjungi nenekku, soalnya nanti lebaran keluargaku ngga bakal kesana.”

“Kenapa ngga sama keluargamu saja? Atau kenapa ngga habis lebaran aja? Silaturahmi itu kan enaknya bareng keluarga.”

“Engga bisa. Pokoknya hari Kamis kita berangkat, oke!”

“Hah? Lusanya kan lebaran. Lagi arus mudik begini pasti banyak orang.”

“Cuma sebentar kok. Udah itu kita langsung pulang.” Reka menepuk pundak Nuna.  “Tenang aja biaya makan plus transport biar aku yang tanggung. Dan aku pastikan, kita bisa lebaran di rumah.”

“Tapi….”

“Sudahlah, pokoknya jam  4 sore kita berangkat, oke! Tar aku jemput kamu.” Reka meninggalkan Nuna dengan wajah ceria.

“Apa aku harus pergi?” Nuna merasa bimbang.

            Hari keberangkatan pun tiba. Reka sudah ada di rumah Nuna sejak jam 3 sore, bahkan dia membantu Nuna packing. Setelah selesai mereka segera pergi ke terminal untuk menaiki bus yang akan mengantarkan mereka.

            Nuna merasa pusing setelah sampai di terminal. Banyaknya orang dengan hiruk pikuknya membuat dia ingin pergi meninggalkan tempat itu. Memang dia tidak suka dengan keramaian. Karena itu membuat kepalanya pusing dan perutnya mual ingin muntah.

            Reka menarik tangan Nuna ke salah satu bus. Bus sudah hampir penuh membuat mereka agak lama berdiri untuk mencari kursi yang masih kosong. Reka sudah menemukan satu kursi kosong untuknya, namun dia tidak segera duduk. Dia berdiri di depan kursinya sambil mencari satu lagi kursi kosong untuk Nuna.

“Di belakang ada satu lagi, Nuna!” Reka menunjuk kursi itu lalu Nuna mengikutinya.

            Nuna segera berjalan kearah yang ditunjuk Reka. Tapi ketika dia hampir mendapatkannya, seorang ibu malah duduk mendahuluinya. Untung saja kursi disampingnya masih kosong. Tapi seorang laki-laki yang duduk disampingnya tampak mencugigakan. Nuna tetap duduk disana karena tidak ada pilihan lain.

            Tepat 3 kursi didepannya ditempati Reka. Tadinya dia pikir bisa duduk bersebelahan sehingga 6 jam perjalanan bisa sedikit menyenangkan. Namun kenyataannya dia harus duduk dengan perasaan was-was karena orang yang duduk disampingnya tampak aneh.

            Dia memakai jaket kulit hitam hingga menutupi lehernya. Dia juga memakai topi dan kacamata hitam, tidak ketinggalan tasnya yang agak besar pun berwarna hitam. Hanya celana jeansnya saja yang berwarna kebiruan. Nuna berusaha duduk dengan wajar sambil memeluk erat tasnya. Aku tidak boleh tidur! Katanya dalam hati. Dan tanpa dia tahu, orang itu tersenyum melihat tingkah Nuna.

            Kurang lebih 2 jam sudah berlalu. Matahari sudah condong ke barat. Magrib pun tiba. Nuna mengambil sebotol greentea dari tasnya untuk berbuka dan semasukannya kembali setelah selesai.

            Semakin lama perjalan kondisi Nuna semakin tidak baik. Kepalanya pusing dan perutnya mual. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin dan wajahnya pucat. Tangan kanannya memegang perut sementara tangan kirinya menutup mulut agar tidak muntah. Dia membiarkan tasnya jatuh begitu saja. Dia benar-benar menderita saat itu.

            Laki-laki disampingnya memberinya handuk kecil untuk mengelap keringat tapi Nuna malah menepelkannya di mulutnya. Kemudian orang itu mengambil kayu putih dari tasnya dan menciumkan pada hidung Nuna, namun tak berapa kemudian.. Hoekk…!!! Nuna muntah. Nuna melihat kearah orang itu seolah berkata “Maaf”. Orang itu berdiri lalu menyuruh Nuna duduk di tempatnya. Mereka bertukaran tempat. Nuna diberi sebuah roti dan obat olehnya

“Makanlah! Lalu minumlah obatnya,  sepertinya kamu masuk angin.” kata laki-laki itu.

“Emm.. kurasa biar ga masuk angin lebih baik pakai ini!” Nuna mengacungkan selembar plester untuk nyeri otot dan sakit kepala dengan ragu. Orang itu hanya mengernyitkan alisnya lalu duduk ke posisinya semula sambil melipat kedua tangannya.

            Dengan canggung Nuna membalikan badan ke arah jendela lalu memasang plester itu di kudelnya. Setelah itu dia memakan roti dan meminum obatnya. Dia merasa membaik setelah itu hingga akhirnya tertidur bersandar pada jendela.

“Nuna, bangun!” Reka menggoyang-goyangkan tubuh Nuna ketika sudah sampai.

“Sudah sampai ya? Cepat sekali.” Nuna menggosok-gosok kedua matanya. “Jam berapa sekarang?”

“Jam 10. Tidurmu nyenyak sekali. Apa kamu sangat menikmati perjalanannya?” tanya Reka. Nuna hanya tersenyum dengan mata yang masih mengantuk.

“Ayo turun!” perintah Reka.

            Ketika hendak berdiri, Nuna menyadari ada sebuah jaket menutupi tubuhnya. “Pantas saja aku tidak kedinginan.” gumannya. “Tapi ini punya siapa?” Nuna berpikir sesaat. “Ini kan…. Punya dia.”

“Nuna cepat!” perintah Reka saat hampir turun.

“Iya.” Nuna segera bergegas menyusul Reka setelah tahu kalau jaket itu punya laki-laki yang duduk di sampingnya barusan.

“Reka, kita cari mesjid dulu ya! Aku belum shalat.” pinta Nuna. Reka hanya mengangguk. “Setelah itu kita cari makan, oke!” Reka menjentrikan jarinya.

            Nuna dan Reka berjalan diantara kerumunan orang sambil mengobrol  dengan akrab. Dari jarak yang tidak begitu jauh tanpa sengaja seseorang yang sedang berdiri selelah memcuci wajahnya dengan air mineral mengikuti mereka dengan matanya. Tadinya orang itu ingin mengambil jaketnya, tapi ia batalkan  karena merasa tidak enak.

            Setelah selesai makan, Nuna dan Reka berdiri di depan terminal menunggu jemputan. Sebuah mobil sedan berwarna hitam melintas di depan mereka. Seseorang yang duduk di kursi belakang terus melihat kearah Nuna, orang yang dikenalnya. Dia tersenyum saat pandangannya tak melihat Nuna lagi.

            Tak berapa lama kemudian jemputan mereka pun tiba. Seorang laki-laki yang hampir seumuran dengan mereka turun dari mobil lalu memeluk tubuh Reka. Dia menyapa Nuna lalu mempersilakan mereka masuk ke dalam mobil.

Akhirnya Nuna tahu bahwa laki-laki itu adalah pacarnya Reka. Nuna merasa tidak nyaman dengan orang itu, apalagi ketika dia tahu kalau mereka akan beristirahat di kost-an Riza, pacar Reka. Ditambah lagi karena itu kost-an khusus laki-laki, banyak sekali laki-laki yang berlalu lalang di depan Nuna. Nuna merasa agak takut.

“Reka!!!” seru Nuna saat mereka berdua masuk kamar. “Bukannya kamu bilang kita akan ke rumah nenekmu? Kenapa malah kesini?” tanyanya.

            Reka memegang kedua tangan Nuna. “Maaf Nuna, sebenarnya yang ingin kutemui adalah Riza bukan nenek. Sudah lama kami ngga ketemu dan beberapa minggu ke depan juga kita ngga bisa ketemu.”

“Jadi kamu bohong?”

“Aku kan sudah minta maaf.” Reka melepaskan tangan Nuna. “Sudahlah, sekarang kamu istirahat disini saja ya, Riza akan tidur di kamar temannya jadi kamarnya bisa kita pakai.” Reka mendudukan Nuna di atas ranjang lalu pergi mengobrol dengan Riza di luar. Nuna merasa sangat sedih. Dia juga merasa sangat takut harus tidur di kamar seorang pria. Dia benar- benar ingin pulang saat itu.

            Keesokan harinya Nuna meninggalkan tempat itu. Bukan untuk pulang, tapi sekedar melepaskan ketidaknyamanannya saja. Dia tidak tahu jalan pulang dan tidak punya uang pula. Dia hanya berjalan-jalan disekitar daerah itu seorang diri. Dia memilih pergi sendiri walaupun Reka dan Riza bersedia menemaninya. Nuna juga masih sedikit marah pada Reka.

            Hati Nuna sedikit terhibur ketika dia melihat anak-anak bermain petasan di lapangan. Suara petasan yang menurut sebagian orang berisik, seperti sedang melepaskan gundah dihati Nuna. Nuna pun ikut bermain bersama mereka. Di siang hari ketika adzan dhuhur berkumandang, Nuna pergi ke mesjid untuk shalat. Disana dia berkenalan dengan seorang remaja mesjid bernama Aisah. Aisah mengajak Nuna berkumpul dengan teman-temannya yang saat itu akan mengadakan kajian di akhir Ramadhan. Nuna sangat senang dengan ajakan itu. Sore harinya, setelah shalat ashar  Nuna pergi ke taman dekat mesjid. Dia duduk disana lalu merenung. Tanpa Nuna ketahui, seseorang yang kemarin duduk disampingnya tanpa sengaja sudah melihat Nuna beberapa kali sedangkan Nuna tak pernah melihatnya lagi sejak saat itu dan memang Nuna tidak tahu wajah orang itu.

“Besok Lebaran, tapi aku belum pulang. Pasti ibu mengkhawatirkanku. Ibu…aku ingin pulang.” Nuna berkata seorang diri saat mendengar takbir sudah bekumandang dimana-mana. Dia merindukan keluarganya. “Seharusnya aku ada di rumah sekarang, ibu pasti masak banyak.” matanya mulai berkaca-kaca. Nuna bersandar pada kursi tanpa berpikir apa-apa lagi.

“Sudah waktunya buka puasa kan?” kata seseorang sambil menyodorkan sebotol minuman pada Nuna saat tanpa dia sadari adzan magrib berkumandang. Nuna tersadar dari lamunannya lalu menatap orang itu. “Kau…” Nuna mengambil minuman itu lalu mengatakan terima kasih.

            Adzan magrib selesai saat Nuna sudah menghabiskan setengah botol minumannya.

“Sudah waktunya shalat, cepat pergi!” perintah orang itu pada Nuna sambil mendorong tubuhnya  pelan.

“Kau…” Nuna membalikan badannya.

“Aku Kristen.” kata orang itu polos lalu mendorong tubuh Nuna lagi.

“Aku tahu.” Nuna membalikan badannya lagi. “Maksudku kenapa kau berbuat seperti ini padaku? Kau bahkan tidak mengenalku.”

“Sudahlah…. Sana pergi!” perintah orang itu kekeh, Nuna pun berjalan meninggalkannya.

“Oya, kamu suka makan apa?” tanyanya lagi sebelum langkah Nuna semakin jauh.

Nuna membalikan badannya. “Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku.” jawabnya.

“Baiklah kalau begitu kamu suka apa saja ya. Ya sudah sana pergi!”

“Orang aneh!!” Guman Nuna meninggalkan orang itu dengan langkah cepat.

            Nuna benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia mencubit pipinya karena mungkin sedang bermimpi. Namun melihat minuman yang dipegangnya, Nuna yakin kalau itu bukan mimpi. Dia pun berlari kearah mesjid dengan perasaan senang.

            Setelah shalat, Nuna melihat orang itu masih duduk di tempat yang sama. Nuna menghampirinya perlahan-lahan. Orang itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.

“Aku belikan kamu makanan, makanlah!”

“Apa aku akan baik-baik saja setelah makan itu?”

“Kau pikir aku akan meracunimu ya??” Nuna hanya tersenyum lalu memakannuya.

“Oya, emmm….” Orang itu ingin mengatakan sesuatu yang sepertinya agak sulit untuk dikatakan, Nuna menatap orang itu.

“Apa kau tidak mengenalku?” tanya orang itu akhirnya. Nuna mengalihkan pandangannya dan mulai makan lagi. “Sepertinya kau tidak tahu ya? Baiklah, aku adalah…”

“Brian Trevand.” potong Nuna menatap orang yang benama Brian itu. “Seorang penyanyi yang akhir-akhir ini merangkap sebagai aktor dan model. Dia lahir pada tanggal 21 Agustus. Hal yang disukainya binatang dan jeruk, yang tidak disukainya angka 9 dan apel. Dia pernah mengatakan akan bekerja keras dimasa muda untuk bersenang-senang dimasa tua.” Nuna tersenyum lalu memakan makanannya lagi.

“Kau tahu ya?”

“Temanku bilang aku ini penggemarmu. Aku bahkan memajang fotomu di dompetku.”

“Baru kali ini ada penggemar sepertimu.” Brian menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak merasa jadi penggemarmu.”

“Tadi kau bilang…”

“Aku bilang kan temanku yang bilang.”

“Lalu apa?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Nuna menghela nafas lalu memandang langit. “Entah kenapa rasanya sakit terus melihatmu dari TV. Walaupun begitu aku selalu tetap ingin melihatmu. Kalau dipikir-pikir rasanya tidak adil jika hanya aku saja yang melihatmu. Tapi bagaimana lagi, aku ada di tempat yang jauh dan tak bisa terlihat olehmu dan aku juga bukan siapa-siapa yang penting untuk kau lihat. Mungkin aku sedang melakukan hal yang bodoh ya?”

Mereka terdiam sejenak.

“Hei… apa kau mengenal gadis bodoh yang sejak kemarin mondar-mandir di depan mataku?” tanya Brian tiba-tiba. Nuna menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti karena Brian seolah sedang memalingkan pembicaraan mereka.

“Sejak kemarin aku terus melihatnya. Di terminal, di depan mesjid bahkan di pinggir jalan pun aku melihatnya. Gadis bodoh itu tidak biasa dengan perjalanan jauh soalnya baru 3 jam perjalanan bus saja dia sudah muntah.” Brian tersenyum dengan senyuman meledek.

“Seseorang memberinya handuk untuk mengelap keringat dinginnya tapi dia malah memakainya untuk muntah. Sebelumnya gadis itu tampak khawatir duduk disana tapi akhirnya malah tidur nyenyak.” sambungnya.

“Kau…” sela Nuna.

Brian mendekatkan tubuhnya pada Nuna. “Yang paling lucu darinya adalah dia menempel plester masuk angin di perutnya dengan sungkan, padahal dia sudah diberi obat.” bisiknya lalu tersenyum geli.

“Apa dia adalah… kau?” tanya Nuna.

Brian tersenyum lalu menghela nafas. “Aku selalu melihatmu sejak kemarin, tapi kau tidak tahu. Kau bilang kau selalu melihatku tapi kau tidak menyadari siapa aku.” Brian melirik Nuna kemudian tersenyum saat Nuna menundukan kepalanya dengan reflek. Mungkin dia malu.

“Aku tahu ini masih belum adil, kan?” tanya Brian lalu berdiri ke hadapan Nuna dan mengulurkan tangannya. “Namaku Brian Trevand.”  ucap Brian memperkenalkan diri sementara Nuna hanya mematung menatapnya.

“Kita harus berkenalan secara resmi, kan?” sambungnya

 “Nuna, Nuna Mirach.” Nuna membalas uluran tangan itu. “Aku meminum obatnya dan sudah mencuci handuk itu.”

“Benarkah??? Kau baik sekali.” Brian duduk kembali di samping Nuna.

“ Oya, namamu unik. Apa ada filosofisnya?” tanya Brian mengalihkan pembicaraan.

“Entahlah.” Nuna menggeleng. “Yang kutahu Mirach adalah nama sebuah bintang di konstelasi Andromeda. Si cahaya redup yang jaraknya 200tc dari bumi. Dia memiliki arti “perawan yang dirantai” dalam etimologinya. Mungkin aku memang seorang perawan yang di rantai oleh orang sepertimu.” Nuna tersenyum simpul.  “Tapi sebenarnya orang tuaku tak memikirkan arti saat menberiku nama.” sambung Nuna.

“Jadi bintang ya? Ternyata ada juga cerita seperti itu. Menarik juga.” Brian menatap langit yang saat itu begitu cerah sehingga tampak bulan dan bintang dengan konstelasinya. Lalu menatap Nuna. “Pilihkan bintang untukku!” pintanya

Nuna terdiam sesaat. “Polaris.”

“Polaris? Aku pernah dengar nama itu.”

“Polaris adalah bintang terang di langit utara yang jaraknya 431tc dari bumi. Walaupun dia lebih jauh dari Mirach tapi cahayanya lebih terang dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Dia salah satu bintang terang di langit. Polaris berada tepat di sumbu bumi dan dia tidak bergerak seperti bintang lain. Ada yang bilang jika kita tersesat, ikutilah bintang Polaris  maka kau akan selamat. Karena dia tidak bergerak maka dia tidak akan menyesatkanmu.” sambung Nuna puas.

“Polaris ya? Bagus juga. Baiklah mulai sekarang namaku Brian Trevand Polaris. Jangan bilang siapa-siapa ya! Hanya kau yang tahu.” Brian tersenyum senang kemudian bernyanyi dengan suara mengguman.

            “Nyanyikan lagu yang lain!!” potong Nuna.

            “Lagu apa?”

            “Percaya. Diantara semua lagumu aku paling suka lagu itu.”

 “Itu kan bukan lagu yang populer.”

“Tapi aku suka sekali. Aku sangat suka liriknya” Nuna menatap langit. Nuna ingin menyanyikan lagu itu tapi karena tidak bisa bernyanyi dia hanya mengucapkan liriknya saja.

 “Malam itu anugerah disaat kita bertemu. Bulan bersinar di langit, bintang-bintang tersenyum. Kau bawakan bintang dan kupanjatkan sebuah doa, untuk hari bahagia yang tak pernah usai. Ketika ada waktu yang terasa begitu sulit. Jika membayangkan suaramu dapat kulupakan semua. Malam-malam berbintang tergambar bayanganmu, ku memanggil dan kau tetap menjadi seperti bintang. Kutanamkan bunga keyakinan di taman hatiku walau layu atau gugur namun akan bersemi lagi. Dan aku percaya suatu hari nanti, malam beranugerah itu akan datang lagi.” Nuna menghela nafas tanpa memalingkan tatapannya pada langit.

“Kau melupakan satu bait.” ucap Brian seraya menatap Nuna kemudian menyanyikan bait yang terlewat itu. “Saat itu ku merasa sangat beruntung. Kau membuatku tersenyum hanya dengan  dekatmu. Walaupun kau pergi ku percaya kan temukanmu karena kau selalu tersenyum di dalam  hatiku.” Nuna membalas tatapan Brian lalu tersenyum getir.

Gema takbir semakin ramai malam itu. Dia menyingkirkan awan-awan yang menghalangi purnama dan bintang yang hendak menyambut Hari Raya. Nuna mendapat kado lebaran terindah tahun ini. Mungkin cahaya Mirach akan bertambah sinarnya.

1 bulan kemudian

            Di ruang tunggu rumah sakit, Nuna duduk bersama orang-orang yang tak dikenalnya sambil menonton siaran televisi. Nuna sedang menunggu Lusi yang  sedang diperiksa karena ada masalah dengan lambungnya. Saat itu, acara musik sedang digelar dalam salah satu siaran televisi dan bintang tamu acara itu adalah Brian.

            Saat presenter menanyakan tentang lagu yang akan dibawakannya, Brian mengatakan dia akan menyanyikan lagu “Percaya”. Dan saat ditanya kenapa dia menyanyikan lagu itu…

            “Sebab yang bisa membuka rantai si cahaya redup itu hanya Polaris. Aku percaya cahayanya pasti sudah lebih terang sekarang, iya kan?” jawabannya membuat presenter itu bertanya-tanya karena tak mengerti maksud ucapannya, namun Brian hanya tersenyum.

            Nuna tersenyum dari tempat duduknya kemudian Lusi yang sudah selesai diperiksa datang menghampirinya dan duduk di sampingnya sambil melihat-lihat obat yang diberikan oleh dokter.

            “Kau sudah selesai?” tanya Nuna pada Lusi.

Lusi hanya mengangguk

“Ayo pulang!” ajaknya.

            “Lho? Kamu tidak mau liat Brian menyanyi dulu?” tanya Lusi.

            Nuna menggelengkan kepalanya kemudian menarik tangan Lusi.

            “Tumben kamu ga mau liat dia..”

            “Aku tidak perlu mendengarnya bernyanyi di depan orang lain karena dia selalu bernyanyi di dalam  hatiku.” ucap Nuna dengan ekspresi berbunga-bunga.

            “So puitis.” Lusi tersenyum simpul.

Mereka berjalan meninggalkan rumah sakit. Semakin jauh semakin tak terdengar alunan suara Brian. Ada perasaan bahagia di hati Nuna saat itu. Dia teringat percakapan terakhir mereka saat Nuna hendak pulang.

            “Aku belum mengembalikan jaketmu…”  ucap Nuna saat Brian yang sudah mengantarnya ke kost- an Riza hendak menaiki mobilnya.

            “Kembalikan saat kita bertemu lagi.” Brian tersenyum dibalik jendela pintu mobil yang terbuka. Lalu mengisyaratkan dengan tangannya sehingga Nuna mendekat padanya.

            “Jadilah Mirach yang memiliki cahaya yang sama dengan Polaris.” Bisiknya kemudian pergi dengan melambaikan tangannya.

           

            Kata-kata terakhir Brian seolah mengisyaratkan bahwa mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti. Itu membuat Nuna yakin bahwa pertemuan mereka memiliki kesan dihati masing-masing.

            “Kita pergi ke rumah Reka yukk!” ajak Nuna pada Lusi.

            “Kau tidak marah padanya? Dia kan sudah membohongimu..”

            “Kenapa harus marah, kalau dia tidak berbohong mungkin aku tidak akan bertemu Polaris.” jawabnya. “Seharusnya aku berterima kasih padanya.” lanjut Nuna.

Lusi yang tidak mengerti maksud Nuna hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.

            Apa kita akan bertemu lagi? tanya Nuna dalam hatinya saat memandang Polaris dari jendela kamar tidurnya di suatu malam. Polaris… Apa aku menyukaimu? Apa aku telah menitipkan kunci hatiku padamu? Cinta sejauh bintang… Jika aku menyukai bintang maka aku juga harus menjadi bintang kan? Mungkin sekarang aku hanya Mirach yang bercahaya redup tapi… suatu hari nanti aku akan menjadi lebih terang sepertimu Polaris… Aku akan berusaha!! Karena entah kenapa aku percaya pada perasaan ini.. Ini akan menjadi cambuk untukku. Aku takkan melepaskan perasaan ini begitu saja tapi aku juga takkan berusaha keras mempertahannya. Aku hanya percaya bahwa Allah…. telah menyiapkan takdir terbaik bagiku.

The end

 

About anabhae

i like a star!!!! I wanna meet Kibum..
Leave a comment

Posted by on 13 June 2011 in nae's

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.